Deskripsi
Godot atau ngagodot dipahami sebagai gerakan tukang gergaji ketika membelah kayu yang dilakukan oleh dua orang dengan menarik dan mengulur gergaji terus-menerus. Prinsip kerja gergaji ini mengilhami dasar ajaran bela diri godot. Silat godot ditampilkan dengan luwes dan lembut, tetapi mampu menjatuhkan lawan dengan memanfaatkan tenaganya. Alih-alih beradu tenaga dengan lawan, godot lebih menitikberatkan pada jurus-jurus tangkapan, gerakan jarak dekat, serta permainan untuk melumpuhkan bagian sendi dan keseimbangan lawan. Teknik yang dikembangkan juga meliputi upaya melepaskan diri dari kuncian dan tekananan lawan layaknya belut yang licin dan mahir melepaskan diri dari ruang yang sempit. Teknik ini juga membuat silat godot dikenal dengan nama silat belut sakembu.
Silat ini telah diajarkan secara turun-temurun dari masa kerajaan Mataram. Kala itu pada 1629 Mataram gagal menyerang Jayakerta. Kemudian banyak prajuritnya yang memilih tinggal di Karawang daripada kembali ke Mataram. Salah satu dari mereka adalah Pangeran Inggaroda yang kemudian mengembangkan keterampilan bela diri yang hingga kini dikenal dengan silat godot ini. Ia berupaya menciptakan berbagai jurus, termasuk melumpuhkan lawan dalam jarak dekat.
Dalam silat godot terdapat berbagai ajaran kehidupan. Gerakan godot mengandung falsafah kejiwaan dan ajaran tentang kesaktian. Dalam ajaran tersebut kesaktian dimaknai sebagai keselamatan dalam bentuk kekebalan dan kegagahan yang menjadi berkah. Walaupun memiliki kesaktian, sejatinya seseorang tidak perlu berkelahi. Di samping itu ada juga ajaran agar sakit dan pedih tidak perlu dirasakan terlalu mendalam. Dalam menapaki hidup juga jangan sampai mendapatkan kehinaan dan melakukan hal memalukan. Terakhir, jangan sampai kabar kematian terdengar sebagai berita yang memalukan. Itulah ajaran yang menjadi prinsip pegangan dunia akhirat bagi orang-orang yang menekuni bela diri ini.
Silat godot memang telah berusia ratusan tahun, tetapi nasab perguruannya masih tersambung. Hingga saat ini para pendekarnya wajib mengenal silsilah nasab dan guru-gurunya. Mereka juga perlu menjaga kemurnian ajaran dengan pewarisan hanya kepada garis keturunan dan keluarga terdekat dari generasi ke generasi.